Kamis, 11 Juli 2013

manfaat kulit manggis



THE EFFECT GIVING OF MANGOSTEENS SKIN JUICE ON THE DECLINE LEVEL OF PAIN DYSMENORRHOEA TO THE STUDENT IN MAN WONOKROMO PLERET BANTUL, 2013[1]
Azizati Salmas Marsiami[2], Mufdlilah[3]
ABSTRACT
The incident dysmenorrhoea in the world was very big in general almost more than 50% women experienced. A research in the United States mentioned that dysmenorrhoea was experienced 30-50% the age woman of the reproduction and 10-15% caused loss of employment opportunities, disrupt the activity studied in the school and family life. This research aimed at knowing the effect giving of mangosteens skin juice on the decline in the level of pain dysmenorrhoea to the student in MAN Wonokromo Pleret, Bantul in 2013.
This research used the quasi-experimental methods (quasi-experiment) with the design of the study one group pretest-posttest. Total Samples of the research 15 respondents  who were received from 65 class students majoring in science and social studies MAN Wonokromo. Results of the research using Wilcoxon Paired Test Match Asymp results obtained. Sig 0.001 (P <0.05) then Ha is accepted and Ho is rejected. So as to be able to be concluded had the effect  giving of mangosteens skin juice on the decline in the level dysmenorrhoea.
The suggestion for the public it was hoped could make use of mangosteens skin juice to reduce the level of pain dysmenorrhoea.



Keywords                   : The level of Pain, Disminorea, Juice of mangosteens Skin
The bibliography         : The Book (2001-2012), the Internet, Jurnal
The number of pages   :  xii, 107 pages, the table 1 up to 9, the picture 3

PENDAHULUAN
Angka kejadian dismenorea di dunia sangat besar. Rata-rata hampir lebih dari 50% wanita mengalaminya. Di Inggris sebuah penelitian menyatakan bahwa 10% dari remaja sekolah lanjut tampak absen 1-3 hari setiap bulannya karena menderita dismenorea. Sedangkan hasil penelitian di Amerika persentase kejadian dismenorea lebih besar sekitar 60%, Swedia 72% dan di Indonesia 55% (Dito Anurogo, 2011). Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa dismenorea dialami oleh 30-50% wanita usia reproduksi dan 10-15% sehingga menyebabkan diantaranya kehilangan kesempatan kerja, mengganggu kegiatan belajar di sekolah dan kehidupan keluarga. Begitu pula angka kejadian dismenorea di Indonesia yang masih cukup tinggi, sementara yang berobat kedokter hanya sedikit yaitu berkisar 1-2% saja ( Abidin, 2004).
Dalam sebuah studi, wanita mengalami dismenorea derajat ringan sampai berat 74,1% sedangkan hanya 25,9% yang tidak mengalami dismenorea. Sedangkan 50% dari wanita yang sedang haid mengalami dismenorea dan 10% mempunyai gejala yang hebat sehingga memerlukan istirahat di tempat tidur. Wanita dengan dismenorea mempunyai lebih banyak libur kerja dan prestasi kurang begitu baik di sekolah dibandingkan wanita yang tidak mengalami dismenorea (Hacker& Moore, 2011).
Syndrome dismenorea bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala yang timbul akibat adanya kelainan dalam rongga panggul yang sangat menggangu aktivitas perempuan, bahkan seringkali mengharuskan penderita beristirahat dan meninggalkan pekerjaanya selama berjam-jam akibat dismenorea (Babak, 2004). Dismenorea primer dimulai dari wanita yang berumur 2-3 tahun setelah menarche dan mencapai maksimalnya pada usia 15-25 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukan bahwa dismenorea primer tersebut dialami oleh 60-70% perempuan muda. Dari tiga perempat jumlah tersebut mengalami dismenorea dengan intensitas ringan / sedang. Sedangkan seperempatnya mengalami dismenorea dengan tingkat berat dan terkadang menyebabkan penderita tidak berdaya menahan nyeri tersebut ( Hendrik, 2006).
Peran pemerintah dalam menangani kejadian dismenorea ini adalah dengan ditetapkannya UUTK pasal 81 ayat 1, bahwa wanita yang merasakan sakit akibat menstruasi tidak wajib masuk kerja pada hari pertama dan kedua menstruasi. Perusahaan wajib mengabulkan permohonan izin cuti haid jika memang tidak dapat bekerja secara produktif pada hari-hari tersebut (Widjaya, 2007). Selain itu pemerintah juga berperan dalam memberikan pendidikan kepada tenaga kesehatan untuk penanganan kepada remaja atau pelajar yang mengalami dismenorea.
Banyak hal yang dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri pada dismenorea primer, misalnya penggunaan kompres hangat, mengkonsumsi obat-obatan analgetik, olahraga teratur, akupuntur, dan mengkonsumsi produk-produk herbal yang telah dipercaya khasiatnya (Smith, 2003). Wanita di Indonesia khususnya remaja yang mengalami dismenorea lebih banyak mengatasinya dengan mengkonsumsi obat penghilang rasa nyeri yang beredar di pasaran. Menurut Pryambodho (2010) obat penghilang nyeri di pasaran apabila di minum dengan dosis yang tidak tepat dan secara terus menerus berakibat ketagihan terhadap pengunaan obat dan menekan sistem pernapasan, over dosis, sakit kepala, mual, muntah, serta gangguan jantung, ginjal dan liver. Berdasarkan survei terhadap pelajar dari lima sekolah lanjutan pertama di Jakarta, pada tahun 2002 didapatkan sedikit sekali di antara mereka yang berobat ke dokter. Mereka membeli obat-obat penghilang nyeri hanya dapat mengurangi nyeri haid sementara waktu, dan dalam jangka panjang dapat berdampak buruk ke ginjal dan liver (Baziad, 2004). Bahkan sebagian masyarakat beranggapan bahwa nyeri akan hilang setelah wanita menikah, sehingga mereka membiarkan gangguan tersebut (Admin, 2005).
Salah satu produk herbal dan alami tanpa efek samping dalam penggunaan waktu yang lama adalah kulit manggis, karena kandungan pada kulit manggis mengandung banyak antioksidan yang tinggi dengan aktivitas yang kuat, selain itu juga disebutkan bahwa manggis memiliki kandungan berbagai jenis vitamin maupun mineral yang penting bagi tubuh seperti Fe, Serat, Calsium, Vitamin C, Kalium, Vitamin B2, Protein, Katecin/tannin, Fosforus, Na, Vitamin B1, Niasin.
Kulit manggis mengandung xanthone yang mempunyai sifat sebagai antioksidan kuat, anti-inflamasi yang akan menghambatpelepasan prostaglandin yang berlebihan melalui jaringan epitel uterus sehingga mengurangi terjadinya syndrome dismenorea (Sahroni, 2012).
Berdasarkan studi pendahuluan di MAN Wonokromo yang dilakukan penulis pada Februari 2013 didapatkan hasil yaitu dari 65 siswi, 60 siswi diantaranya menderita dismenorea, 10 mengalami dismeorea berat dan 50 lainnya mengalami dismenorea sedang sampai ringan. Dari 60 siswi tersebut 30 (50%) siswi mengatakan minum jamu-jamuan ramuan sendiri atau dari pasar untuk menghilangkan nyeri dismenorea, sedangkan 6 (10%) siswi menggunakan obat-obatan baik dari dokter atau membeli sendiri dari apotek dan 40% diantaranya membiarkan nyeri tersebut begitu saja.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu masalah yaitu “Apakah Ada Pengaruh Pemberian Jus Kulit Manggis terhadap Penurunan Derajat Nyeri Dismenorea pada Siswi di MAN Wonokromo Pleret, Bantul tahun 2013? ”.
TUJUAN PENELITIAN
Diketahuinya pengaruh pemberian jus kulit manggis terhadap penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi di MAN Wonokromo Pleret, Bantul  tahun 2013 ”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (quasi experiment) atau percobaan adalah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan memberikan percobaan atau perlakuan. Desain penelitian ini menggunakan rancangan One Group Pretest-Postest (Notoatmojo, 2005).
Populasi dalam penelitian ini adalah siswi kelas II Jurusan IPA dan IPS MAN Wonokromo yakni 65 orang. Jumlah sampel yang diambil peneliti dari jumlah populasi adalah 15 responden, penentuan jumlah sampel ini berdasarkan pada jumlah sampel minimal yaitu 10 responden, untuk penelitian eksperimen dengan taraf kesalahan 5% (Sugiyono, 2010).
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji beda nonparametrik. Uji beda non parametrik test digunakan bagi data yang berskala nominal atau ordinal atau yang mempunyai skala interval atau ratio tetapi tidak normal (Arikunto, 2006). Karena data berskala ordinal dan membandingkan nilai sebelum diberi intervensi dan setelah diberi intervensi dengn hipotesis komparatif dua sampel yang berkorelasi maka uji beda yang digunakan adalah uji Wilcoxon Match Paired Test
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1.6 Pengaruh Pemberian Jus Kulit Manggis Terhadap Penurunan Derajat Nyeri Dismenorea Pada Siswi MAN Wonokromo Pleret, Bantul 2013.
Intensitas Nyeri
No    Pretest          Katagori      Posttest         Katagori               Selisih
 

1          9           nyeri hebat           2             nyeri ringan         7
2          5           nyeri sedang        0             tidak nyeri           5
3          7           nyeri hebat           1             nyeri ringan         6
4          6           nyeri sedang        2            nyeri ringan         4
5          7           nyeri hebat           3             nyeri ringan             4
6          5           nyeri sedang        1             nyeri ringan             4
7          7           nyeri hebat           1             nyeri ringan         6
8          5           nyeri sedang        0             tidak nyeri           5
9          4           nyeri sedang        0             tidak nyeri           4
10        5           nyeri sedang        1             nyeri ringan         4
11        6           nyeri sedang        1             nyeri ringan         5
12        7       nyeri hebat          2                           nyeri ringan                         5
13        7       nyeri hebat          1                           nyeri ringan                         6    
14        8       nyeri hebat          0                           tidak nyeri           8
15        6       nyeri sedang        1                          nyeri ringan                         5


 
Sumber: Data Primer, 2013
Tabel 1.6 menunjukkan bahwa dari 15 responden, semua responden mengalami penurunan derajat nyeri dismenorea, yaitu sebanyak 15 responden. Penurunan terjadi baik dari nyeri hebat turun menjadi nyeri sedang dan nyeri ringan hingga tidak nyeri,serta nyeri sedang turun menjadi nyeri ringan sampai tidak nyeri. Selisih penurunan derajat nyeri dismenorea maksimal adalah 8 dan paling sedikit yaitu 4.
Untuk membuktikan pengaruh pemberian jus kulit manggis terhadap penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi MAN Wonokromo Pleret, maka dilakukan Uji Statistik Wilcoxon Match Paired Test. Hasil Uji Statistik Wilcoxon Match Paired Test dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.7 Hasil Uji Statistik Pengaruh Pemberian Jus Kulit Manggis Terhadap Penurunan Derajat Nyeri Dismenorea Pada Siswi MAN Wonokromo Pleret, Bantul 2013 menggunakan Wilcoxon Match Paired Tes.
Post test, Pre test    N    Mean        Sum Of Rank   Test statistik                                                                                                             ZAsimp.Sig


 
Negative Rank            15      8,00                         120,0                 -3,48      0.01
Positive Rank           0        0,00                           0,00
Sumber : Data Primer yang diolah
Tabel 1.7 menunjukkan bahwa untuk nilai pretest posttest didapatkan nilai negative rank 8,00 disebabkan karena dari 15 responden semuanya mengalami penurunan. Didapatkan pula nilai Z sebesar – 3,438 dan Asymp. Sig. (2-tailed) 0,001.Untuk menentukan hipotesis diterima atau ditolak maka besar Asymp.Sig.dibandingkan dengan taraf kesalahan 5% (0,05). Jika Asymp.Sig. lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak, dan jika Asymp.Sig. kurang dari 0,05 maka hipotesis diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Asymp.Sig.lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,001. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian jus kulit manggis terhadap penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi MAN Wonokromo Pleret, Bantul 2013.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mempunyai Asymp.Sig.yang lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,001. Hal ini menunjukkan bahwaadanya pengaruh pemberian jus kulit manggis terhadap penurunan tingkat nyeri dismenorea pada siswi MAN Wonokromo Pleret, Bantul.Responden yang mengalami penurunan derajat nyeri dismenorea disebabkan karena adanya perlakuan berupa pemberian jus kulit manggis. Dari tabel 1.6 juga dapat terlihat bahwa responden yang diambil dalam penelitian yaitu responden yang memiliki dismenorea sedang dan berat, sedangkan untuk dismenorea ringan tidak diambil sebagai responden. Hal tersebut dikarenakan pada derajat nyeri dismenorea berat dan sedang sangat mengganggu aktifitas sehari-hari dan ketika di ukur dengan skala numerik dapat terlihat jelas penurunan derajat nyeri setelah pemberian jus kulit manggis.
Pada dismenorea sedang responden masih dapat melakukan kegiatannya sehari-hari walaupun responden melakukan relaksasi dan memberi minyak angin untuk mengurangi nyerinya. Sedangkan pada responden dengan dismenorea berat peneliti mengunjungi rumah responden untuk memberikan jus kulit manggis.Hal tersebut sesuai menurut pendapat Manuaba (2001) yaitu dismenorea berat menyebabkan penderitanya untuk beristirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, kram pada pinggang, diare dan rasa tertekan.
Penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi Wonokromo Pleret, Bantul disebabkan karena kandunganxanthonepada kulit manggis yang bermanfaat untuk mengurangi nyeri dismenorea dan membantu mengatasi efek peningkatan produksi hormon prostalglandin. Dengan demikian, semakin banyak mengkonsumsi jus kulit manggis maka derajat nyeri dismenorea yang dialami semakin menurun.Kulit manggis dikatagorikan sebagai limbah yang memiliki banyak manfaat yaitu mengandung 50 senyawa xanthone. Xanthone adalah bioflavoid yang bersifat antioksidan, antibakteri, antitumor, antihistamin dan antiimflamasi. Komposisi xanthone (mg) 123,97 mg yaitu vitamin B1 20,66 mg, vitamin B2 1,79 mg, vitamin B6 0,946 mg dan vitamin C 17,92 mg (Tjahjaningtyas, 2011).
KESIMPULAN
Presentase hasil Pretest, 7 responden (46,7%) mengalami nyeri hebat dan 8 responden (53,3%) mengalami nyeri sedang. Sedangkan hasil Postest, sebagian besar mengalami penurunan menjadi nyeri sedang yaitu sebesar 11 responden (73,3%) dan 4 responden mengalami penurunan nyeri yaitu tidak nyeri sebanyak 4 responden (26,7%).
Hasil uji statistik nonparametris dengan uji Wilcoxon Match Paired Test, didapatkan hasil nilai Z sebesar – 3,438 dan Asymp. Sig. (2-tailed) 0,001 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian jus kulit manggis terhadap penurunan derajat nyeri dismenorea.
KEPUSTAKAAN
Arikunto, S,. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Aulia, 2009,. Kupas Tuntas Menstruasi. Jakarta : Millestone.
Babak, L,. (2004). Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Banziad, Ali. (2003).Endokrinologi Ginekologi. Jakarta : KSERI.
Depkes RI. (2005). Profil Kesehatan. Jakarta: Depkes.
Dito, Nugroho,. (2011). Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstetri (Obsgyn) untuk Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika
Dwi, Cristina R,. (2012). Perbedaan Teknik Relaksasi Nafas Dalam dan Kompres Hangat dalam Menurunkan Dismenorea pada Remaja SMA Negeri 3, Padang.
Dyah, Pradya,. (2010). Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Dismenorea dengan Prilaku Penanganan Dismenorea pada Siswi SMK YPKK 1 Sleman Yogyakarta.
Elif, Oral and friends,. (2012). Premenstrual Symptom Severity, Dysmenorrhea, and School Performance in Medical Students.
Hacker, Moore,.(2011). Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Hipokrates.




[1] Title Of The Research
[2] Student Midwife On  Diploma Program of  STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta
[3] Lecturer  Of STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar