THE EFFECT
GIVING OF MANGOSTEENS SKIN JUICE ON THE DECLINE LEVEL OF PAIN DYSMENORRHOEA TO THE STUDENT IN MAN WONOKROMO PLERET BANTUL, 2013[1]
ABSTRACT
The incident dysmenorrhoea in the world
was very big in general almost more than 50% women experienced. A research in
the United States mentioned that dysmenorrhoea was experienced
30-50% the age woman of the reproduction and 10-15% caused loss of employment opportunities, disrupt the
activity studied in the school and family life. This research aimed at knowing
the effect giving of mangosteens skin juice on the decline in the level of pain
dysmenorrhoea
to the student in MAN Wonokromo Pleret, Bantul in 2013.
This research
used the quasi-experimental methods
(quasi-experiment) with the design of the study one group pretest-posttest. Total Samples
of the research 15 respondents who were
received from 65 class students majoring in science and social studies MAN
Wonokromo. Results of the research using Wilcoxon Paired Test Match Asymp results obtained. Sig 0.001 (P <0.05)
then Ha is accepted and Ho is rejected. So as to be able to be concluded had
the effect giving of mangosteens skin
juice on the decline in the level dysmenorrhoea.
The suggestion
for the public it was hoped could make use of mangosteens skin juice to reduce
the level of pain dysmenorrhoea.
Keywords : The level of Pain,
Disminorea, Juice of mangosteens Skin
The bibliography : The Book (2001-2012), the Internet,
Jurnal
The number of pages : xii, 107 pages, the table 1 up to 9, the
picture 3
PENDAHULUAN
Angka kejadian dismenorea di
dunia sangat besar. Rata-rata hampir lebih dari 50% wanita mengalaminya. Di Inggris
sebuah penelitian menyatakan bahwa 10% dari remaja sekolah lanjut tampak absen
1-3 hari setiap bulannya karena menderita dismenorea. Sedangkan hasil penelitian
di Amerika persentase kejadian dismenorea lebih besar sekitar 60%, Swedia 72%
dan di Indonesia 55% (Dito Anurogo,
2011). Sebuah penelitian di
Amerika Serikat menyebutkan bahwa dismenorea dialami oleh 30-50% wanita usia
reproduksi dan 10-15% sehingga menyebabkan diantaranya kehilangan kesempatan kerja, mengganggu
kegiatan belajar di sekolah dan kehidupan keluarga. Begitu pula angka kejadian
dismenorea di Indonesia yang masih cukup tinggi, sementara yang berobat kedokter hanya sedikit yaitu berkisar 1-2%
saja ( Abidin, 2004).
Dalam sebuah studi, wanita mengalami dismenorea
derajat ringan sampai berat 74,1% sedangkan hanya 25,9% yang tidak mengalami
dismenorea. Sedangkan 50% dari wanita yang sedang haid mengalami dismenorea dan 10% mempunyai gejala yang
hebat sehingga memerlukan istirahat di tempat tidur. Wanita dengan dismenorea
mempunyai lebih banyak libur kerja dan prestasi kurang begitu baik di sekolah
dibandingkan wanita yang tidak mengalami dismenorea (Hacker& Moore, 2011).
Syndrome dismenorea bukanlah suatu penyakit, melainkan
gejala yang timbul akibat adanya kelainan dalam rongga panggul yang sangat
menggangu aktivitas perempuan, bahkan seringkali mengharuskan penderita
beristirahat dan meninggalkan pekerjaanya selama berjam-jam akibat dismenorea
(Babak, 2004).
Dismenorea primer dimulai dari wanita yang berumur 2-3 tahun setelah menarche
dan mencapai maksimalnya pada usia 15-25 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh
menunjukan bahwa dismenorea primer tersebut dialami oleh 60-70% perempuan muda.
Dari tiga perempat jumlah tersebut mengalami dismenorea dengan intensitas
ringan / sedang. Sedangkan seperempatnya mengalami dismenorea dengan
tingkat berat dan terkadang menyebabkan penderita tidak berdaya menahan nyeri
tersebut ( Hendrik, 2006).
Peran pemerintah dalam menangani kejadian
dismenorea ini adalah dengan ditetapkannya UUTK pasal 81 ayat 1, bahwa wanita
yang merasakan sakit akibat menstruasi tidak wajib masuk kerja pada hari
pertama dan kedua menstruasi. Perusahaan wajib
mengabulkan permohonan izin cuti haid jika memang tidak dapat bekerja secara
produktif pada hari-hari tersebut (Widjaya, 2007). Selain itu pemerintah juga berperan dalam
memberikan pendidikan kepada tenaga kesehatan untuk penanganan kepada remaja
atau pelajar yang mengalami dismenorea.
Banyak hal yang dilakukan untuk
mengurangi rasa nyeri pada dismenorea primer, misalnya penggunaan kompres
hangat, mengkonsumsi obat-obatan analgetik, olahraga teratur, akupuntur, dan
mengkonsumsi produk-produk herbal yang telah dipercaya khasiatnya (Smith,
2003). Wanita
di Indonesia khususnya remaja yang mengalami dismenorea lebih banyak
mengatasinya dengan mengkonsumsi obat penghilang rasa nyeri yang beredar di
pasaran. Menurut Pryambodho (2010)
obat penghilang nyeri di pasaran apabila di minum dengan dosis yang tidak tepat
dan secara terus menerus berakibat ketagihan
terhadap pengunaan obat dan menekan sistem pernapasan, over dosis, sakit kepala, mual, muntah,
serta gangguan jantung, ginjal dan liver. Berdasarkan
survei terhadap pelajar dari lima sekolah lanjutan pertama di Jakarta, pada
tahun 2002 didapatkan sedikit sekali di antara mereka yang berobat ke dokter.
Mereka membeli obat-obat penghilang nyeri hanya dapat mengurangi nyeri haid sementara
waktu, dan dalam jangka panjang dapat berdampak buruk ke ginjal dan liver
(Baziad, 2004). Bahkan sebagian masyarakat beranggapan bahwa nyeri akan hilang
setelah wanita menikah, sehingga mereka membiarkan gangguan tersebut (Admin,
2005).
Salah satu produk
herbal dan alami tanpa efek samping dalam penggunaan waktu yang lama adalah
kulit manggis, karena kandungan pada kulit manggis mengandung banyak
antioksidan yang tinggi dengan aktivitas yang kuat, selain itu juga disebutkan
bahwa manggis memiliki kandungan berbagai jenis vitamin maupun mineral yang
penting bagi tubuh seperti Fe, Serat, Calsium, Vitamin C, Kalium,
Vitamin B2, Protein, Katecin/tannin, Fosforus, Na, Vitamin B1, Niasin.
Kulit manggis mengandung xanthone yang mempunyai sifat sebagai antioksidan
kuat, anti-inflamasi yang akan menghambatpelepasan
prostaglandin yang berlebihan melalui jaringan epitel uterus sehingga
mengurangi terjadinya syndrome dismenorea (Sahroni, 2012).
Berdasarkan studi pendahuluan
di MAN Wonokromo yang dilakukan penulis pada Februari 2013 didapatkan hasil
yaitu dari 65 siswi, 60 siswi diantaranya menderita dismenorea, 10 mengalami dismeorea berat
dan 50 lainnya mengalami dismenorea sedang sampai ringan. Dari 60 siswi tersebut 30 (50%) siswi mengatakan
minum jamu-jamuan ramuan sendiri atau dari pasar untuk menghilangkan nyeri
dismenorea, sedangkan 6 (10%) siswi menggunakan obat-obatan baik dari dokter
atau membeli sendiri dari apotek dan 40% diantaranya membiarkan nyeri tersebut
begitu saja.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat
dirumuskan suatu masalah yaitu “Apakah Ada Pengaruh Pemberian
Jus Kulit Manggis terhadap Penurunan Derajat Nyeri Dismenorea pada Siswi di MAN
Wonokromo Pleret, Bantul tahun 2013? ”.
TUJUAN PENELITIAN
Diketahuinya pengaruh pemberian jus kulit
manggis terhadap penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi di MAN Wonokromo
Pleret, Bantul tahun 2013 ”.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini menggunakan metode eksperimen semu (quasi experiment) atau percobaan
adalah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan memberikan percobaan atau
perlakuan. Desain penelitian ini menggunakan rancangan One Group
Pretest-Postest (Notoatmojo, 2005).
Populasi dalam
penelitian ini adalah siswi kelas II Jurusan IPA dan IPS MAN Wonokromo yakni 65
orang. Jumlah sampel yang diambil peneliti dari jumlah populasi adalah 15
responden, penentuan jumlah sampel ini berdasarkan pada jumlah sampel minimal
yaitu 10 responden, untuk penelitian eksperimen dengan taraf kesalahan 5%
(Sugiyono, 2010).
Analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalah uji beda nonparametrik. Uji beda non parametrik
test digunakan bagi data yang berskala nominal atau ordinal atau yang mempunyai
skala interval atau ratio tetapi tidak normal (Arikunto, 2006). Karena data
berskala ordinal dan membandingkan nilai sebelum diberi intervensi dan setelah
diberi intervensi dengn hipotesis komparatif dua sampel yang berkorelasi maka
uji beda yang digunakan adalah uji Wilcoxon Match Paired Test
HASIL DAN PEMBAHASAN
Intensitas
Nyeri
No Pretest Katagori Posttest Katagori Selisih
1 9
nyeri hebat 2 nyeri ringan 7
2 5
nyeri sedang 0 tidak nyeri 5
3 7
nyeri hebat 1 nyeri ringan 6
4 6
nyeri sedang 2
nyeri
ringan 4
5 7 nyeri hebat 3
nyeri ringan 4
6 5
nyeri sedang 1 nyeri ringan 4
7 7
nyeri hebat 1 nyeri ringan 6
8 5
nyeri sedang 0 tidak nyeri 5
9 4
nyeri sedang 0 tidak nyeri 4
10 5
nyeri sedang 1 nyeri ringan 4
11 6
nyeri sedang 1 nyeri ringan 5
12 7
nyeri hebat 2 nyeri ringan 5
13 7 nyeri
hebat 1 nyeri
ringan 6
14 8 nyeri
hebat 0 tidak
nyeri 8
15 6 nyeri
sedang 1 nyeri
ringan 5
Sumber: Data Primer,
2013
Tabel 1.6 menunjukkan bahwa dari 15 responden, semua responden
mengalami penurunan derajat nyeri dismenorea, yaitu sebanyak 15 responden.
Penurunan terjadi baik dari nyeri hebat turun menjadi nyeri sedang dan nyeri
ringan hingga tidak nyeri,serta nyeri sedang turun menjadi nyeri ringan sampai
tidak nyeri. Selisih penurunan derajat nyeri dismenorea maksimal adalah 8 dan
paling sedikit yaitu 4.
Untuk membuktikan pengaruh pemberian jus kulit manggis terhadap
penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi MAN Wonokromo Pleret, maka
dilakukan Uji Statistik Wilcoxon Match Paired Test. Hasil Uji Statistik
Wilcoxon Match Paired Test dapat dilihat pada tabel berikut:
Post test, Pre test N Mean
Sum Of Rank Test statistik
ZAsimp.Sig
Negative Rank 15 8,00 120,0 -3,48 0.01
Positive Rank 0 0,00 0,00
Sumber : Data Primer yang diolah
Tabel 1.7 menunjukkan bahwa untuk nilai
pretest posttest didapatkan nilai negative rank 8,00 disebabkan karena dari 15
responden semuanya mengalami penurunan. Didapatkan pula nilai Z sebesar – 3,438
dan Asymp. Sig. (2-tailed) 0,001.Untuk menentukan hipotesis diterima atau
ditolak maka besar Asymp.Sig.dibandingkan dengan taraf kesalahan 5% (0,05).
Jika Asymp.Sig. lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak, dan jika
Asymp.Sig. kurang dari 0,05 maka hipotesis diterima. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa Asymp.Sig.lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,001. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian jus kulit manggis terhadap
penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi MAN Wonokromo Pleret, Bantul
2013.
Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mempunyai Asymp.Sig.yang lebih kecil dari
0,05 yaitu 0,001. Hal ini menunjukkan bahwaadanya pengaruh pemberian jus kulit
manggis terhadap penurunan tingkat nyeri dismenorea pada siswi MAN Wonokromo
Pleret, Bantul.Responden yang mengalami penurunan derajat nyeri dismenorea
disebabkan karena adanya perlakuan berupa pemberian jus kulit manggis. Dari
tabel 1.6 juga dapat terlihat bahwa responden yang diambil dalam penelitian
yaitu responden yang memiliki dismenorea sedang dan berat, sedangkan untuk
dismenorea ringan tidak diambil sebagai responden. Hal tersebut dikarenakan pada
derajat nyeri dismenorea berat dan sedang sangat mengganggu aktifitas
sehari-hari dan ketika di ukur dengan skala numerik dapat terlihat jelas
penurunan derajat nyeri setelah pemberian jus kulit manggis.
Pada dismenorea sedang
responden masih dapat melakukan kegiatannya sehari-hari walaupun responden
melakukan relaksasi dan memberi minyak angin untuk mengurangi nyerinya.
Sedangkan pada responden dengan dismenorea berat peneliti mengunjungi rumah
responden untuk memberikan jus kulit manggis.Hal tersebut sesuai menurut
pendapat Manuaba (2001) yaitu dismenorea berat menyebabkan penderitanya untuk
beristirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, kram pada pinggang,
diare dan rasa tertekan.
Penurunan derajat nyeri dismenorea pada siswi Wonokromo Pleret,
Bantul disebabkan karena kandunganxanthonepada
kulit manggis yang bermanfaat untuk mengurangi nyeri dismenorea dan membantu
mengatasi efek peningkatan produksi hormon prostalglandin. Dengan demikian,
semakin banyak mengkonsumsi jus kulit manggis maka derajat nyeri dismenorea
yang dialami semakin menurun.Kulit manggis dikatagorikan sebagai limbah yang
memiliki banyak manfaat yaitu mengandung 50 senyawa xanthone. Xanthone adalah
bioflavoid yang bersifat antioksidan,
antibakteri, antitumor, antihistamin
dan antiimflamasi. Komposisi xanthone (mg) 123,97 mg yaitu vitamin
B1 20,66 mg, vitamin B2 1,79 mg, vitamin B6 0,946 mg dan vitamin C 17,92 mg
(Tjahjaningtyas, 2011).
KESIMPULAN
Presentase hasil Pretest, 7
responden (46,7%) mengalami nyeri hebat dan 8 responden (53,3%) mengalami nyeri
sedang. Sedangkan hasil Postest, sebagian besar mengalami penurunan menjadi
nyeri sedang yaitu sebesar 11 responden (73,3%) dan 4 responden mengalami
penurunan nyeri yaitu tidak nyeri sebanyak 4 responden (26,7%).
Hasil uji statistik
nonparametris dengan uji Wilcoxon Match Paired Test, didapatkan hasil nilai Z
sebesar – 3,438 dan Asymp. Sig. (2-tailed) 0,001 < 0,05 maka Ha diterima dan
Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian jus kulit manggis
terhadap penurunan derajat nyeri dismenorea.
KEPUSTAKAAN
Arikunto,
S,. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Aulia, 2009,. Kupas Tuntas Menstruasi. Jakarta : Millestone.
Babak,
L,. (2004). Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Banziad,
Ali. (2003).Endokrinologi Ginekologi. Jakarta : KSERI.
Depkes
RI. (2005). Profil Kesehatan. Jakarta: Depkes.
Dito,
Nugroho,. (2011). Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstetri (Obsgyn) untuk
Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika
Dwi,
Cristina R,. (2012). Perbedaan Teknik Relaksasi Nafas Dalam dan Kompres
Hangat dalam Menurunkan Dismenorea pada Remaja SMA Negeri 3, Padang.
Dyah,
Pradya,. (2010). Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Dismenorea dengan
Prilaku Penanganan Dismenorea pada Siswi SMK YPKK 1 Sleman Yogyakarta.
Elif,
Oral and friends,. (2012). Premenstrual Symptom Severity, Dysmenorrhea, and
School Performance in Medical Students.
Hacker, Moore,.(2011). Esensial Obstetri dan
Ginekologi. Jakarta: Hipokrates.